Laman

1 Desember 2011

Teori Modernisasi dan Teori Ketergantungan

PERDEBATAN TEORI MODERNISASI DAN TEORI KETERGANTUNGAN
 Secara umum, di dunia ini terdapat dua kelompok Negara : Negara yang memproduksi hasil pertanian, dan Negara yang memproduksi barang industri. Antara kedua kelompok Negara ini melakukan hubungan dagang, dan keduanya, menurut Teori Pembagian Kerja secara Tradisional, yang didasarkan pada Teori Keuntungan Komparatif yang dimiliki oleh masing-masing Negara, membuat kerja sama di antara kelompok menjadi saling diuntungkan.

Tetapi, setelah beberapa puluh tahun kemudian, tampak bahwa Negara industri menjadi semakin kaya, sedangkan Negara-negara pertanian semakin tertinggal. Terhadap hal ini, maka secara umum muncul dua kelompok teori . Teori-teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini terutama disebabkan oleh factor internal atau factor – factor yang terdapat di dalam Negara yang berangkutan. Teori ini dikenal dengan teori modernisasi.
Hal berikut akan memperlihatkan bagaimana perdebatan antara beberapa teori modernisasi tersebut :
TEORI MODERNISASI
  1. Teori Harrod-Domar : Tabungan dan Investasi
Evsey Domar dan Roy Harrod, kedua ahli ekonomi ini mencapai kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Kalau tabungan dan investasi rendah, pertumbuhan ekonomi masyarakat atau negara tersebut juga akan rendah. Masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal. Masalah keterbelakangan adalah masalah kekeurangan modal. Kalau ada modal dan modal tersebut diinvestasikan, hasilnya adalah pembangunan ekonomi.
Karena itu, berdasarkan pada model ini, resep para ahi ekonomi pembangunan di negara-negara dunia Ketiga untuk memecahkan persoalan keterbelakangannya adalah dengan mencari tambahan modal, baik dalam negeri (dengan mengusahakan peningkatan tabungan dalam negeri) maupun dari luar negeri (melalui penanaman modal dan utang luar negeri.
Contoh: negara – negara persemakmuran / bekas jajahan inggris, negara-negara tersebut dimodali dan diawasi oleh negara inggris.
  1. Max Weber : Etika Protestan
Weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama.
Adanya kepercayaan yang mengatakan bahwa ”kalau seseorang berhasil dalam kerjanya di dunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan ditakdirkan untuk naik ke surga setelah dia mati nanti. Kalau kerjanya selalu gagal di dunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan pergi ke neraka”, membuat orang-orang penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih, artinya mereka bekerja bukan untuk mencari kekayaan material melainkan untuk mengatasi kecemasannya. Inilah yang disebut sebagai etika Protestan oleh Weber, yakni cara bekerja yang keras dan sungguh-sungguh lepas dari imbalan materialnya.
Contoh: Etika Madura dimana masyarakat madura berpendapat bahwa Siapa yang menginginkan kesuksesan maka harus berhijrah kedaerah lain. Hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya masyarakat Madura yang merentau dan kebanyakan mereka sukses.
  1. David McClelland : Dorongan Berprestasi atau n-Ach
Adanya N- Ach yang tinggi dalam sebuah masyarakat akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat. N-Ach ini semacam virus yang bisa ditularkan. Jadi, N-Ach ini bukanlah sesuatu yang diawriskan sejak lahir. Selanjutnya McClelland mengatakan bahwa kalau dalam sebuah masyarakat ada banyak orang yang memiliki n-Ach yang tinggi, dapat diharapkan masyarakata tersebut akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tempat yang paling baik untuk memupuk N –Ach adalah di dalam keluarga melalui orang tua. Pendidikan anak menjadi sangat penting, cerita anak-anak yang beredar harus diarahkan pada nilai N –Ach yang tinggi.
Contoh: Di negara jepang kegagalan adalah sebuah aib besar dan sebliknya keberhasilan adalah sebuah prestasi yang luar biasa yang sangat di hargai oleh masyarakat. Dengan pandangan ini jepang mampu membangun negaranya dengan cepat.
  1. W.W. Rostow : Lima tahap Pembangunan
Bagi Rostow, pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yakni dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat maju.
a. Masyarakat Tradisional : pada tahap ini masyarakat belum begitu mengenal teknologi dan ilmu pengetahuan belum bagitu maju. Dengan demikian masyarakat masih bergantung pada alam, kemajuan lambat, produksi hanya untuk konsumsi dan modal masih sangat minim.
b. Prakondisi untuk lepas landas: walupun perkembangan pada tahap pertama sangat lambat, namun pada suatu titik tertentu akan terjadi sebuah perkembangan pada posisi prakondisi untuk lepas landas. Pada tahap ini biasanya terjadi karena adanya campur tangan dari pihak luar, biasanya dari masyarakat yang lebih maju.
Contoh: negara-negara persemakmuran Inggris.
c. Lepas landas : pada tahap ini hambatan-hambatan pada tahan kedua sudah mulai berkurang, pertumbuhan ekonomi berjalan dengan wajar tabungan dan investasi meningkat dari 5% menjadi 10% dari pendapatan nasional.
d. Bergerak ke kedewasaan : pada tahap ini proses kemajuan terus bergerak walaupun masih terjadi pasang surut. Tabungan dan investasi meningkat dari 10% menjadi 20% dari pendapatan nasional. Industri berkembang dengan pesat dan mulai mempunyai posisi tetap dalam perekonomian global.
e. Jaman konsumsi masal yang tinggi: adanya peningkatan pendapatan masyarakat, konsumsi meningkat dari kebutuhan pokok menjadi barang konsumsi yang tahan lama. Pada periode ini investasi bukan lagi tujuan utama. Penambahan modal dan investasi ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan sosial dan penambahan modal sosial.

  1. Bert F. Hoselitz : faktor-faktor Non Ekonomi
Menurutnya faktor yang mempengaruhi pembangunan ekonomi adalah faktor non ekonomi. Menurutnya faktor kondisi lingkungan juga sangat berpengaruh pada pembangunan ekonomi. Walaupun maslah pembangunan adalah masalah modal, menurut Hozelitz ada faktor lain yaitu keterampilan kerja. Oleh karena itu pembangunan memerlukan pemasokan dari berbagai unsur. Diantaranya :
1. pemasokan modal besar dan perbankan
2. pemasokan tenaga ahli dan terampil

  1. Alex Inkeles dan David H. Smith : Manusia modern.
Pembangunan bukanlah permasalahan modal dan teknologi belaka, namun dibutuhkan tenaga manusia yang terampil dan berkualitas dan mampu mengembangkan sarana tersebut agar menjadi produktif. Dalam hal ini dibutuhkan yang namanya manusia modern. Manusia modern adalah manusia yang mempunyai keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi pada masa sekarang dan masa yang akan datang, mempunyai kesanggupan merencanakan, bisa melakukan adaptasi dengan cepat, dan lain-lain. Untuk menciptakan manusia modern menurutnya diperlukan beberapa cara, dari sekian cara pendidikan merupakan cara yang paling efektif, karena pengaruh pendidikan tiga kali lebih besar dibandingkan dengan cara lain.

Perdebatan teori-teori di atas :
Dari penjelasan/keterangan masing-masing teori di atas, dapat kita lihat bahwa perbedaan yang ada pada macam-macam teori ini hanya merupakan perbedaan penekanan aspek yang dianggap penting, baik dalam menciptakan manusia yang akan membangun, maupun dalam mempersiapkan sarana material untuk pembangunan itu sendiri. Tetapi, inti dari teori-teori ini adalah sama.
Teori harrod-Domar lebih menekankan bahwa pembangunan hanya merupakan masalah penyediaan modal untuk investasi. Ini berarti melihat pada aspek ekonomi. Teori McClelland dengan konsep n-Achnya menekankan pada aspek psikologi individu. Teori Weber menekankan nilai-nilai budaya, Teori W.W.Rostow lebih menekankan pada adanya lembaga-lembaga sosial dan politik yang mendorong proses pembangunan, dan teori Bert F. Hoselitz, Alex Inkeles dan David H. Smith lebih memperhatikan pada aspek lingkungan material.

Pada teori Harrod-Domar, aspek ekonomi lebih ditekankan, sedangkan aspek individu/psikologi para subjek pembangunan/manusia sendiri tidak dibahas. Hal ini dapat mengakibatkan tidak maksimalnya pembangunan, padahal manusia dapat dikatakan sebagai modal utama dari pembangunan. Dan untuk mendorong agar manusia tersebut mau melaksanakan pembangunan secara bekerja sama dan ikut menyukseskan program pembangunan, maka diperlukan juga teori n_Ach dari McClelland, walaupun juga tidak dapat dipungkiri bahwa aspek ekonomi sangat penting. Untuk teori Etika Protestannya Weber, saya rasa tidak jauh berbeda dengan teori n-Ach. Hanya saja teori ini lebih dipengaruhi oleh nilai-nilai agama. Namun, ini dapat dijadikan sebagai motivator bagi manusia itu sendiri secara tidak langsung dalam pelaksanaan pembangunan. Dengan dianutnya Etika Protestan, seseorang akan berlomba untuk memperkaya dirinya dan bekerja keras secara sungguh-sungguh untuk meraih kesuksesan. Hal ini akan mendorong semangat berprestasi sebagaimana yang diungkapkan dalam teori n-Ach. 

Teori Rostow merupakan salah satu modifikasi dari teori Harod-Domar. Hal ini tercermin pada Teori Rostow tentang tingkat-tingkat pertumbuhan dan tinggal landas. Meskipun ditambahkan bermacam faktor lain, pada intinya Rostow berbicara tentang usaha peningkatan tabungan dan investasi dalam memacu perkembangan sebuah masyarakat untuk mencapai posisi tinggal landas. Sama seperti teori Harod-Domar, teori Rostow ini tidak mempersoalkan masalah manusia. Masalah manusianya dianggap sebagai sudah tersedia. Sedangkan Teori Bert F. Hoselitz membahas faktor-faktor non-Ekonomi yang ”ditinggalkan” oleh Rostow. Faktor non-ekonomi disebut oleh Hoselitz sebagai faktor kondisi lingkungan yang dianggap penting dalam proses pembangunan. Logikanya, jika dihubungkan dengan teori investasi dan tabungan, bukankah ketika suatu negara mampu/memiliki kesanggupan untuk menabung dan melakukan investasi, berarti ia juga mampu memperhatikan kondisi lingkungannya untuk menarik suatu masyarakat agar mampu meningkatkan tabungan dan investasinya. 

Selanjutnya, Hoselitz mengatakan :Kondisi lingkungan ini harus dicari terutama dalam aspek-aspek non-ekonomi dari masyarakat. Dengan kata lain, lepas dari pengembangan modal seperti pembangunan sarana sistem telekomunikasi serta transportasi dan insvestasi dalam fasilitas pelabuhan, pergudangan, dan instalasi-instalasi sejenis untuk perdagangan luar negeri, banyak dari pembaruan-pembaruan yang terjadi pada periode persiapannya didasarkan pada perubahan-perubahan pengaturan kelembagaan yang terjadi dalam bidang hukum, pendidikan, keluarga dan motivasi. 
Lewat teori ini, dapat dilihat bahwa meskipun seringkali orang menunjukkan bahwa masalah utama pembangunan adalah kekurangan modal (Teori Harod-Domar), ada masalah lain yang juga sangat penting, yaitu adanya keterampilan kerja tertentu, termasuk tenaga kerja yang tangguh. Oleh karena itu, diperlukanlah perubahan kelembagaan dan lingkungan yang mempengaruhi pemasokan modal.
Selanjutnya, kita kembali melihat mengenai pentingnya faktor manusia sebagai komponenpenting penopang pembangunan. Bahwa pembangunan bukan sekedar perkara pemasokan modal dan teknologi saja. Tetapi dibutuhkan manusia yang dapat mengembangkan sarana material supaya menjadi produktif. Untuk itu, dibutuhkan apa yang disebut oleh Inkeles sebagai manusia Modern. Ketika ciri-ciri manuasia modern tersebut, sebagaimana yang dikemukakan oleh Alex Inkeles dan David H. Smith (keterbukaan terhdap pengalaman dan ide-ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa menguasai lama dan bukan sebaliknya, dan sebagainya) telah terpenuhi, maka pembangunan yang diharapkan bersama dengan diiringi oleh faktor lain pun akan tercapai. 

TEORI KETERGANTUNGAN

Selain teori Modernisasi, dalam pembangunan terdapat satu pendangan lain lain yang merupakan antitesis dari teori modernisasi. Teori modernisasi menilai bahwa masalah pembangunan dan kemiskinan disebabkan oleh faktor internal yaitu ketidakmampuan masyarakat untuk membangun diri sendiri. Hubungan atau kontak dengan negara-negara maju dianggap membantu proses pembangunan negara-negara yang sedang berkembang.
Perspektif dependensi muncul setelah perspektif modernisasi diterapkan di banyak negara terbelakang. Pengamatan yang dilakukan oleh ahli sejarah telah memberikan gambaran serta dukungan bukti empirik terhadap kegagalan modernisasi. Sebagai sebuah kritik, dependensi harus dapat menguraikan kelemahan-kelemahan dari modernisasi dan mengeluarkan pendapat baru yang mampu menutup kelemahan tersebut.
Lain halnya dengan pandangan teori ketergantungan, teori ini memandang bahwa hambatan pembangunan justru disebabkan oleh turut campurnya negara-negara maju. Bantuan dari negara maju dianggap akan menimbulkan ketergantungan dan masalah baru bagi negara yang sedang berkembang.
Teori ketergantungan tahap pertama, teori ini berpangkal pada teori-teori imperialisme dan kolonialisme. dipelopori oleh:

a. Raul presbich: Industri substitusi Import.
Presbich ini menentang pendangan pembagian kerja internasional, adanya keuntungan komparatif. Menurutnya negara-negara didunia ini terbagi menjadi dua, yaitu negara pusat yang menghasilkan barang-barang produksi. Negara pinggiran yaitu negara yang memproduksi hasil pertanian. Dua negara ini saling berhubungan dan seharusnya saling diuntungkan. Namun yang terjadi negara pinggiran semakin tertinggal bila dibanding dengan negara pusat.
Menurutnya hal ini disebabkan oleh menurunnya nilai tukar barang-barang hasil pertanian terhadap terhadap barang hasil produksi. Akibatnya terjadi defisit pada neraca perdagangan di negara-negara pinggiran. Contoh: Indonesia sebagai negara agraris semakin tertinggal dibandingkan dengan Jepang yang telah maju dibidang industri.

b. Andre Gunder frank : pembangunan keterbelakangan
Menurutnya keterbelakangan dan kemiskinan negara-negara pinggiran (negara satelit) bukanlah sebuah gejala alamiah dan bukan karena kekurangan modal. Keterbelakangan dan kemiskinan merupakan akibat dari proses ekonomi, politik dan sosial sebagai implikasi dari globalisasi dari sistem kapitalis. Artinya kemiskinan di negara satelit disebabkan oleh adanya pembangunan di negara pusat.
Frank membagi negara – negara menjadi dua yaitu negara metropolis dan negara satelit. Negara metrolis bekerjasama dengan elit lokal negara satelit untuk melakukan dominasi di negara satelit.
Frank menyajikan lima tesis tentang dependensi, yaitu :
1. Terdapat kesenjangan pembangunan antara negara pusat dan satelitnya, pembangunan pada negara satelit dibatasi oleh status negara satelit tersebut.
2. Kemampuan negara satelit dalam pembangunan ekonomi terutama pembangunan industri kapitalis meningkat pada saat ikatan terhadap negara pusat sedang melemah. Pendapat ini merupakan antitesis dari modernisasi yang menyatakan bahwa kemajuan negara dunia ketiga hanya dapat dilakukan dengan hubungan dan difusi dengan negara maju.
3. Negara yang terbelakang dan terlihat feodal saat ini merupakan negara yang memiliki kedekatan ikatan dengan negara pusat pada masa lalu.
4. Kemunculan perkebunan besar di negara satelit sebagai usaha pemenuhan kebutuhan dan peningkatan keuntungan ekonomi negara pusat.
5. Eksploitasi yang menjadi ciri khas kapitalisme menyebabkan menurunnya kemampuan berproduksi pertanian di negara satelit.

c. Theotonia Dos Santos: Struktur ketergantungan
Menurut Dos santos Negara-negara satelit merupakan negara bayangan dari negara metropolis. Artinya ketika negara metropolis (induk) mengalami kemajuan maka negara satelit akan maju pula. Begitu juga sebaliknya ketika negara metropolis mengalami krisis maka negara satelit akan terkena dampaknya pula. Akan tetapi kemajuan dan atau kemiskinan tersebut bukanlah indikator pembangunan dinegara satelit, karena hal itu hanyalah refleksi dari negara metropolis saja. Bagaimanapun juga negara satelit tetap tenggelam dalam ketergantungan terhadap negara metropolis.
Pandangan ini bertentangan dengan pendapat Frank, frank memandangan hubungan negara satelit dengan negara metropolis selalu bersifat parasitisme (negatif) atau merugikan negara satelit. Namun menurut Dos Santos hubungan tersebut tidak selamanya besifat negatif. Walaupun hanya sebagai refleksi Negara metropolis. Contoh konkritnya adalah negara – negara persemakmuran inggris yang selalu berkembang menjadi negara maju.

Perdebatan teori di atas :

Bagi Frank, keterbelakangan bukan suatu kondisi alamiah dari sebuah masyarakat. Bukan juga karena masyarakat itu kekurangan modal. Keterbelakangan merupakan sebuah proses ekonomi, politik, dan sosial yang terjadi sebagai akibat globalisasi dari sistem kapitalisme.
Prebisch berbicara tentang aspek ekonomi dari persoalan ini, yakni ketimpangan nilai tukar. Menurut Presbisch, negara-negara yang terbelakang harus melakukan industrialisasi, jika ingin membangun dirinya. Industrialisasi ini dimulai dengan industri substitusi impor. Barang-barang industri yang tadinya diimpor, harus diproduksi di dalam negeri. Frank lebih berbicara tentang aspek politik dari hubungan ini, yakni hubungan politis (dan ekonomi) antara modal sing dengan kelas-kelas yang berkuasa di negara-negara satelit. Bagi Frank, keterbelakangan hanya bisa diatasi melalui revolusi yang melahirkan sistem sosialis. Hubungan dengan negara metropolis selalu berakibat negatif bagi negara satelit. Tidak mungkin ada perkembangan di negara satelit selama negara ini masih berhubungan dan menginduk kepada negara metropolis. Namun, Dos Santos berkata lain, Dia menyatakan bahwa negara pinggiran atau satelit bisa juga berkembang, meskipun perkembangan ini merupakan perkembangan yang tergantung, perkembangan ikutan. Impuls dan dinamika perkembangan ini tidak datang dari negara satelit tersebut, tetapi dari negara induknya.
Di dalam teori ketergantungan ini sendiri, pada pokoknya ada dua pendapat yang berbed, yakni : Frank beranggapan bahwa struktur ketergantungan yang ada di negara satelit tidak akan memungkinkan negara ini melakukan pembangunan, khususnya industrialisasi. Sedangkan Dos Santos beranggapan bahwa hal tersebut mungkin, meskipun pembangunan dan industrialisasi yang terjadi merupakan bayangan dari apa yang terjadi di negara-negara pusat. 

Perdebatan Teori Modernisasi dengan Teori Ketergantungan

Teori modernisasi menganjurkan untuk lebih memperat keterkaitan negara berkembang dengan negara maju melalui bantuan modal, peralihan teknologi, pertukaran budaya dan lain sebagainya. Dalam hal ini, teori dependensi memberikan anjuran yang sama sekali berbeda, yakni berupaya secara terus menerus untuk mengurangi keterkaitannya negara pinggiran dengan negara sentral, sehingga memungkinkan tercapainya pembangunan yang dinamis dan otonom, sekalipun proses dan pencapaian tujuan ini mungkin memerlukan revolusi sosialis.
Kegagalan modernisasi membawa kenajuan bagi negara dunia ketiga telah menumbuhkan sikap kritis beberapa ilmuan sosial untuk memberikan suatu teori pembangunan yang baru, yang tentu saja mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan teori yang telah ada. Kritikan terhadap modernisasi yang dianggap sebagai “musang berbulu domba” dan cenderung sebagai bentuk kolonialisme baru semakin mencuat dengan gagalnya negara-negara Amerika Latin menjalankan modernisasinya.
Teori ketergantungan merupakan analisis tandingan terhadap teori modernisasi. Teori ini didasari fakta lambatnya pembangunan dan adanya ketergantungan dari negara dunia ketiga, khususnya di Amerika Latin. Teori ketergantungan memiliki saran yang radikal, karena teori ini berada dalam paradigma neo-Marxis. Sikap radikal ini analog dengan perkiraan Marx tentang akan adanya pemberontakan kaum buruh terhadap kaum majikan dalam industri yang bersistem kapitalisme. Analisis Marxis terhadap teori ketergantungan ini secara umum tampak hanya mengangkat analisanya dari permasalahan tataran individual majikan-buruh ke tingkat antar negara. Sehingga negara pusat dapat dianggap kelas majikan, dan negara dunia ketiga sebagai buruhnya. Sebagaimana buruh, ia juga menyarankan, negara pinggiran mestinya menuntut hubungan yang seimbang dengan negara maju yang selama ini telah memperoleh surplus lebih banyak (konsep sosialisme). Analisis Neo-Marxis yang digunakannya memiliki sudut pandang dari negara pinggiran.
Marx mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan bagi masyarakat namun sebaliknya membawa kesengsaraan. Penyebab kegagalan kapitalisme adalah penguasaan akses terhadap sumberdaya dan faktor produksi menyebabkan eksploitas terhadap kaum buruh yang tidak memiliki akses. Eksploitasi ini harus dihentikan melalui proses kesadaran kelas dan perjuangan merebut akses sumberdaya dan faktor produksi untuk menuju tatanan masyarakat tanpa kelas.
Teori ketergantungan lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia Ketiga. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori ketergantungan mewakili “suara negara-negara pinggiran” untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju. Munculnya teori ketergantungan lebih merupakan kritik terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang didominasi oleh teori modernisasi. Teori ini mencermati hubungan dan keterkaitan negara Dunia Ketiga dengan negara sentral di Barat sebagai hubungan yang tak berimbang dan karenanya hanya menghasilkan akibat yang akan merugikan Dunia Ketiga. Negara sentral di Barat selalu dan akan menindas negara Dunia Ketiga dengan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke negara sentral.

Ketergantungan merupakan situasi yang memiliki kesejarahan spesifik dan juga merupakan persoalan sosial politik. Kedua teori ini berbeda dalam memberikan jalan keluar persoalan keterbelakangan negara Dunia Ketiga. Teori modernisasi menganjurkan untuk lebih memperat keterkaitan negara berkembang dengan negara maju melalui bantuan modal, peralihan teknologi, pertukaran budaya dan lain sebagainya. Dalam hal ini, teori ketergantungan memberikan anjuran yang sama sekali berbeda, yakni berupaya secara terus menerus untuk mengurangi keterkaitannya negara pinggiran dengan negara sentral, sehingga memungkinkan tercapainya pembangunan yang dinamis dan otonom, sekalipun proses dan pencapaian tujuan ini mungkin memerlukan revolusi sosialis.
 
by: vivi-ardi.blogspot.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...